Cuman Banci yang pasang Stop Loss!!
Ada lagi yang mengatakan Stop Loss bikin bangkrut, karena tersentuh lebih dahulu sebelum menyentuh TP. Yang lebih hebat lagi adalah ungkapan ‘Marginku adalah Stop Loss ku’. .
Trading is so Simple...
Tulisan ini saya tujukan terutama bagi para pemula atau siapapun anda yang berpikir bahwa trading itu begitu rumit. Apa yang membuat anda memiliki pemikiran seperti itu?
Trade the News
Dengan memahami bagaimana memanfaatkan hal ini, anda dapat meningkatkan kemungkinan mendapatkan profit.
Kenali Resiko Anda
Kadang kala, seseorang berkonsentrasi pada seberapa banyak yang akan dihasilkan, dan tidak terlalu percaya bahwa situasi dapat saja berubah menjadi loss. .
" Trading for Living " mampukah anda?
Dengan kata lain, anda "harus" menghasilkan cukup profit yang terkadang pada kenyataanya, profit yang dihasilkan tidak pernah cukup. Mengapa? .
Wednesday, 12 March 2008
Jadi … Apakah Drawdown?
Seringkali ada trader yang berharap mendapat keuntungan besar dalam satu kali transaksi dan memilih mempertaruhkan sejumlah besar modal dalam transaksi tersebut. Namun yang terjadi, mereka kehilangan seluruh modal dan menjadi bangkrut.
Tanpa pengaturan keuangan yang benar, Anda tidak jauh beda dengan seorang penjudi. Bisnis trading tanpa perlindungan pengaturan keuangan yang benar tidak akan berhasil dalam jangka panjang. Salah satu istilah yang akan sedikit kita kenal dalam pengaturan keuangan atau Money Manajemen adalah Drawdown.
Sebagai contoh, Anda memiliki account $ 100.000 dan rugi $ 50.000, maka presentase kerugian Anda adalah 50%. Sederhana bukan?
Selanjutnya, untuk mengembalikan modal Anda menjadi $ 100.000, berapa persen beban yang harus Anda tanggung? Apakah 50%? Ternyata yang benar adalah 100%. Kerugian itulah yang disebut drawdown. Jika Anda kehilangan 25% dari modal, maka dikatakan Anda mengalami 25% drawdown.
Semakin besar drawdown, maka akan semakin besar (jauh lebih besar) beban untuk memulihkannya. Besarnya beban untuk memulihkan modal terjadi karena faktor menciutnya modal dan presentase profit.
Apabila Anda memiliki sistem yang bisa menghasilkan 70% keuntungan, bukan berarti bila setelah bertransaksi 10 kali Anda akan profit 7 kali dan rugi 3 kali. Sistem Anda bisa saja menggunakan rasio 1:3, artinya 1 kali profit sama nilainya dengan 3 kali loss. Dengan demikian, ketika Anda loss pada separuh transaksi yang ada, Anda tetap bisa mendapatkan profit lebih dari 70%.
Bagaimana anda mengetahui bahwa dalam 10 transaksi, 7 transaksi pertama akan menguntungkan dan baru 3 transaksi berikutnya akan rugi. Bagaimana kalau rugi 3 kali dahulu baru sisanya yang untung bagaimana jika dari 100 transaksi dan 30 transaksi pertama anda rugi. Mampukah modal anda bertahan untuk menghasilkan keuntungan pada transaksi lainnya?
Di situ pentingnya money management, yaitu agar anda dapat terus bertransaksi dan menghasilkan keuntungan.
Mungkin ada diantara Anda berpikir, “Tidak mungkin Saya mengalami loss 30 kali berturut-turut!” Kenapa tidak? Atau tidak perlu 30 kali, 10 kali loss berturut turut mungkin sudah membuat Anda berpikir ulang dengan sistem trading yang Anda gunakan.
Lantas bagaimana solusinya? Solusinya ada beberapa cara:
Solusi 1 : Memperbesar modal
Dengan memperbesar modal maka Anda memiliki buffer yang lebih besar untuk menahan loss.
Solusi 2: Memperkecil loss per transaksi
Ini solusi paling sederhana dan rasanya lebih dapat diterima. Sebagai contoh, apabila tadinya Anda meresikokan 10% dana untuk bertransaksi yaitu untuk menentukan besarnya Stop Loss, maka Anda perlu mengurangi, menjadi misalnya 5%.
Solusi 3 : Risk to Reward Ratio
Risk to reward ratio merupakan perbandingan antara resiko yang Anda ambil dengan keuntungan yang diperoleh setiap kali membuka posisi. Ini seperti yang saya contohkan di atas, yaitu dengan ratio 3:1 misalnya. Sehingga 3 kali loss, dapat ditutup dengan 1 kali profit.
Para trader pemula seringkali hanya menentukan target profit namun sama sekali tidak menggunakan Stop Loss. Alasannya: kalau menggunakan Stop Loss, lebih sering Stop Loss-nya yang tersentuh sehingga sering rugi.
Ini merupakan gejala klasik yang terjadi hampir di seluruh trader pemula. Sebenarnya sah-sah saja untuk bertrading dengan cara demikian. Namun dari sisi risk to reward ratio, hal ini benar-benar membahayakan, karena batasan resiko itu sendiri adalah Margin Call.
Sources : forum.bemastertrader.com/ & www.belajarforex.com
==============
Happy Trading
==============
Saturday, 8 March 2008
Mengantisipasi Drawdown
Kesempatan kali ini kami akan membahas tentang bagaimana bertahan dalam kondisi market dimana sebuah sistem trading menghadapi kemungkinan menelan drawdown terbesar yang pernah diharapkan. Hanya bisa diantisipasi dengan 3 kata, kurangilah lot anda.
Selama 2 bulan terakhir ini, mata uang bergerak dalam range yang sangat tinggi, yang mana belum pernah kita lihat lagi sejak peristiwa 11 September (9/11). Berdasarkan backtest, sejatinya kita mengalami drawdown terbesar selama dalam kurun waktu hampir 4 tahun ini...namun pada kenyataanya, kita bahkan tidak mengalaminya, karena periode profit telah kita capai melebihi dari jumlah loss yang tidak biasa selama kurun waktu ini.
Secara umum, ada 2 cara yang dapat kita persiapkan untuk mengantisipasi resiko ini. Pertama, mengatur target kita di atas hasil backtest yang telah di lakukan sejauh drawdown yang mungkin timbul. Drawdown terbesar dalam backtest kita jangan sampai melebihi 10% dari modal awal yang dianjurkan. Berapakah yang harus kita persiapkan? 30%. Mengapa? Karena kita hanya memiliki data yang solid selama 4 tahun, kita tidak memiliki data market dengan volatilitas sangat tinggi yang setara dengan kondisi pada 2001. Menyadari bahwa volatilitas yang bertambah juga dapat mempengaruhi bertambahnya resiko, maka drawdown yang harus kita antisipasi pun harus ditambah.
Cara yang kedua, membuat sebuah rencana (trading plan) yang dapat mengurangi ukuran lot trade berdasarkan level drawdown. Misalnya, bila drawdown menyentuh nilai 5%, kita harus mengurangi ukuran lot hingga 80% dari nilai entry kita diawal trading. Bila nilai drawdown menyentuh 10%, kita harus mengurangi ukuran lot sebesar 20% lagi. Kita akan melakukan hal yang sama, tiap kali drawdown bertambah 5%. Maka, jika drawdown menyentuh nilai 25%, kita hanya akan trading sebesar 1/3 dari nilai lot ketika pertama kali kita entry sebelum drawdown terjadi.
Dengan kata lain, jika kita terkena 30% drawdown, dengan tanpa sama sekali mengurangi ukuran lot, maka 30% itu setara dengan 60% drawdown atau 6 kali lebih besar dari drawdown maksimal yang diderita selama backtest.
Dengan rencana seperti ini, kita menempatkan diri untuk dapat mengambil keuntungan dari tiap kesempatan, bertahan dari volatilitas yang sangat tinggi, dengan tetap membatasi resiko dari akun kita sebesar 30% (skenario terburuk).
Banyak trader mengawali trading dengan nilai lot sebesar mungkin, lalu terkena drawdown yang tinggi yang mengakibatkan kepanikan, dan pada akhirnya berhenti trading dalam waktu 3 bulan sejak pertama kali memulai. "No plan, and no back up plan". Sama sekali mengacuhkan bahwa resiko itu sebenarnya ada . . .Inilah yang kita sebut sebagai merencanakan kegagalan, sebab tanpa rencana (plan) yang matang, sama saja kita merencanakan kegagalan.
Bila anda ingin tetap bertahan dalam bisnis ini, apapun sistem yang anda miliki, cobalah untuk mengatur jumlah lot anda ketika sistem tersebut mengalami drawdown.
Namun, ada juga yang berpendapat, bahwa bila sebuah sistem mengalami drawdown, seharusnya bukan mengurangi nilai lot, namun sebaliknya, tambah nilai lot anda untuk entry. Pada kesempatan yang akan datang, kami coba untuk membahasnya.
Mulai dari sekarang, rencanakanlah diri anda untuk survive!
Selama 2 bulan terakhir ini, mata uang bergerak dalam range yang sangat tinggi, yang mana belum pernah kita lihat lagi sejak peristiwa 11 September (9/11). Berdasarkan backtest, sejatinya kita mengalami drawdown terbesar selama dalam kurun waktu hampir 4 tahun ini...namun pada kenyataanya, kita bahkan tidak mengalaminya, karena periode profit telah kita capai melebihi dari jumlah loss yang tidak biasa selama kurun waktu ini.
Secara umum, ada 2 cara yang dapat kita persiapkan untuk mengantisipasi resiko ini. Pertama, mengatur target kita di atas hasil backtest yang telah di lakukan sejauh drawdown yang mungkin timbul. Drawdown terbesar dalam backtest kita jangan sampai melebihi 10% dari modal awal yang dianjurkan. Berapakah yang harus kita persiapkan? 30%. Mengapa? Karena kita hanya memiliki data yang solid selama 4 tahun, kita tidak memiliki data market dengan volatilitas sangat tinggi yang setara dengan kondisi pada 2001. Menyadari bahwa volatilitas yang bertambah juga dapat mempengaruhi bertambahnya resiko, maka drawdown yang harus kita antisipasi pun harus ditambah.
Cara yang kedua, membuat sebuah rencana (trading plan) yang dapat mengurangi ukuran lot trade berdasarkan level drawdown. Misalnya, bila drawdown menyentuh nilai 5%, kita harus mengurangi ukuran lot hingga 80% dari nilai entry kita diawal trading. Bila nilai drawdown menyentuh 10%, kita harus mengurangi ukuran lot sebesar 20% lagi. Kita akan melakukan hal yang sama, tiap kali drawdown bertambah 5%. Maka, jika drawdown menyentuh nilai 25%, kita hanya akan trading sebesar 1/3 dari nilai lot ketika pertama kali kita entry sebelum drawdown terjadi.
Dengan kata lain, jika kita terkena 30% drawdown, dengan tanpa sama sekali mengurangi ukuran lot, maka 30% itu setara dengan 60% drawdown atau 6 kali lebih besar dari drawdown maksimal yang diderita selama backtest.
Dengan rencana seperti ini, kita menempatkan diri untuk dapat mengambil keuntungan dari tiap kesempatan, bertahan dari volatilitas yang sangat tinggi, dengan tetap membatasi resiko dari akun kita sebesar 30% (skenario terburuk).
Banyak trader mengawali trading dengan nilai lot sebesar mungkin, lalu terkena drawdown yang tinggi yang mengakibatkan kepanikan, dan pada akhirnya berhenti trading dalam waktu 3 bulan sejak pertama kali memulai. "No plan, and no back up plan". Sama sekali mengacuhkan bahwa resiko itu sebenarnya ada . . .Inilah yang kita sebut sebagai merencanakan kegagalan, sebab tanpa rencana (plan) yang matang, sama saja kita merencanakan kegagalan.
Bila anda ingin tetap bertahan dalam bisnis ini, apapun sistem yang anda miliki, cobalah untuk mengatur jumlah lot anda ketika sistem tersebut mengalami drawdown.
Namun, ada juga yang berpendapat, bahwa bila sebuah sistem mengalami drawdown, seharusnya bukan mengurangi nilai lot, namun sebaliknya, tambah nilai lot anda untuk entry. Pada kesempatan yang akan datang, kami coba untuk membahasnya.
Mulai dari sekarang, rencanakanlah diri anda untuk survive!
================
Happy Trading!!!
================
Tuesday, 4 March 2008
Kenali Resiko Anda
Melanjutkan tulisan saya beberapa waktu lalu, tentang bagaimana mempersiapkan diri dan bertahan hidup dalam kondisi market yang "gila" dari waktu ke waktu, adalah penting bagi anda untuk memahami hal-hal apa saja yang anda lakukan dalam aktifitas trading.
"Trader A melihat adanya potensi untuk mendapat profit, di dukung oleh data statisik yang tepat, si A kemudian memutuskan untuk entry, dan berpikir bahwa resiko tidak mungkin terjadi"
Kadang kala, seseorang berkonsentrasi pada seberapa banyak yang akan dihasilkan, dan tidak terlalu percaya bahwa situasi dapat saja berubah menjadi loss. Dan bila loss, ia mempercayai bahwa itu bukan disebabkan oleh resiko, tetapi lebih disebabkan karena sistem/metode yang dianutnya kurang tepat. Untuk beberapa kondisi, hal ini mungkin saja benar. Dan sering kali, inilah yang di percayai oleh sebagian besar trader. Salah satu masalah terbesar yang saya cermati adalah overtrading, seperti apa yg telah saya tulis beberapa waktu lalu. Anda meresikokan lebih dari yang seharusnya, karena anda tidak yakin bahwa anda mungkin saja mengalami loss.
Hal lain yangg tidak kalah penting adalah, trader terlalu dini berhenti dari trading. Saya tidak ingat lagi sudah berapa banyak trader yang saya kenal berhenti dari "bisnis ini" dalam 3 bulan sejak pertama kali mereka memulai karena mengalami drawdown yang besar. Bahkan, ada beberapa yang berhenti bukan karena mengalami drawdown yangg cukup besar, tetapi mereka tidak berhasil mendapatkan profit yang dapat dinikmati dan tergoda hal lain yang lebih menggiurkan daripada trading. Hal inilah yang mengawali sebuah siklus tanpa henti selama bertahun-tahun, simbol dari rangkaian resiko dalam aktifitas trading.
Berikut adalah tanda-tanda yang mendasari akar permasalahan ini. Dengan memahami beberapa hal ini, semoga dapat membantu anda mencapai tujuan dari trading. Pahami 3 hal berikut ini beserta tiap-tiap resiko trading yang akan anda alami:
"Trader A melihat adanya potensi untuk mendapat profit, di dukung oleh data statisik yang tepat, si A kemudian memutuskan untuk entry, dan berpikir bahwa resiko tidak mungkin terjadi"
Kadang kala, seseorang berkonsentrasi pada seberapa banyak yang akan dihasilkan, dan tidak terlalu percaya bahwa situasi dapat saja berubah menjadi loss. Dan bila loss, ia mempercayai bahwa itu bukan disebabkan oleh resiko, tetapi lebih disebabkan karena sistem/metode yang dianutnya kurang tepat. Untuk beberapa kondisi, hal ini mungkin saja benar. Dan sering kali, inilah yang di percayai oleh sebagian besar trader. Salah satu masalah terbesar yang saya cermati adalah overtrading, seperti apa yg telah saya tulis beberapa waktu lalu. Anda meresikokan lebih dari yang seharusnya, karena anda tidak yakin bahwa anda mungkin saja mengalami loss.
Hal lain yangg tidak kalah penting adalah, trader terlalu dini berhenti dari trading. Saya tidak ingat lagi sudah berapa banyak trader yang saya kenal berhenti dari "bisnis ini" dalam 3 bulan sejak pertama kali mereka memulai karena mengalami drawdown yang besar. Bahkan, ada beberapa yang berhenti bukan karena mengalami drawdown yangg cukup besar, tetapi mereka tidak berhasil mendapatkan profit yang dapat dinikmati dan tergoda hal lain yang lebih menggiurkan daripada trading. Hal inilah yang mengawali sebuah siklus tanpa henti selama bertahun-tahun, simbol dari rangkaian resiko dalam aktifitas trading.
Berikut adalah tanda-tanda yang mendasari akar permasalahan ini. Dengan memahami beberapa hal ini, semoga dapat membantu anda mencapai tujuan dari trading. Pahami 3 hal berikut ini beserta tiap-tiap resiko trading yang akan anda alami:
1. Mengerti bahwa resiko itu ada
2. Mengerti apa saja resiko yang ada
3. Mengerti kondisi market seperti apa yang memicu resiko-resiko tersebut akan muncul.
Hal yang pertama, paradigma. Ubah paradigma anda. Anda tidak mungkin menghindari resiko, apapun hasil dari "backtest" yang telah anda lakukan, tetap saja tidak bisa menghindarkan anda dari resiko. Bagaimanapun, resiko itu tetap ada.
Hal yang kedua, memahami bahwa drawdown terbesar yang dihasilkan mungkin saja merupakan harapan terkecil (minimal) dan bersiaplah untuk mengalami drawdown tersebut dua kali lipat.
Hal yang ketiga, dimana sekitar 90% lebih trader melupakan hal ini. Sejatinya, sistem tidak selalu berhasil di segala kondisi market. Ada beberapa tipe kondisi market yang berhasil bagi suatu sistem, namun tidak berlaku bagi sistem lainnya. Bila kondisi market sedang menguntungkan, namun sebuah sistem yang seharusnya dapat mengambil keuntungan tersebut gagal untuk menjalankan fungsinya, maka di saat itulah anda berhak menilai bahwa sistem tersebut bukanlah sistem yang bagus.
Kesempatan yang akan datang, saya akan menulis tentang bagaimana memanage resiko dengan mengutak atik angka drawdown.
Hal yang kedua, memahami bahwa drawdown terbesar yang dihasilkan mungkin saja merupakan harapan terkecil (minimal) dan bersiaplah untuk mengalami drawdown tersebut dua kali lipat.
Hal yang ketiga, dimana sekitar 90% lebih trader melupakan hal ini. Sejatinya, sistem tidak selalu berhasil di segala kondisi market. Ada beberapa tipe kondisi market yang berhasil bagi suatu sistem, namun tidak berlaku bagi sistem lainnya. Bila kondisi market sedang menguntungkan, namun sebuah sistem yang seharusnya dapat mengambil keuntungan tersebut gagal untuk menjalankan fungsinya, maka di saat itulah anda berhak menilai bahwa sistem tersebut bukanlah sistem yang bagus.
Kesempatan yang akan datang, saya akan menulis tentang bagaimana memanage resiko dengan mengutak atik angka drawdown.
==========
Happy Trading
==========
Friday, 22 February 2008
Survive!! and you will win this game. . .
Setelah mengamati data statistik dan pola grafik selama 10 tahun ke belakang, belum pernah kami mendapati kondisi pasar begitu "gila" seperti beberapa bulan terakhir ini. Ada saat ketika satu atau dua sektor pasar begitu "gila" namun belum pernah hampir seluruh sektor mengalami sesuatu yang di luar kebiasaan seperti saat ini. Coba kita lihat beberapa data di bawah ini:
- Harga emas belum pernah setinggi ini.
- Harga tembaga belum pernah setinggi ini.
- Harga minyak mentah belum pernah setinggi ini
- Gandum, kedelai, dan beberapa komoditi lainnya belum pernah
setinggi ini
- Beberapa pair mata uang mengalami volatilitas yang belum pernah
kita lihat lagi sejak peristiwa 9/11 (7 tahun)
- S&P terlihat jatuh 22% dari titik puncaknya menuju low sejak
Oktober (4 bulan)
- Obligasi jangka panjang (30 tahun) terus mencoba menguji level
tertinggi sepanjang masa
Segalanya terlihat begitu "gila", yang berarti resiko juga meningkat tajam.
Begitu banyak sistem trading yang bertumbangan dengan cara yang belum pernah dialami , bahkan sejak pertama kali diciptakan. Saya sendiri jujur mengakui, dari 6 akun, 3 akun saya luluh lantak terkena Margin Call. Mungkin anda pernah mendengar tentang John Henry? orang yang bagi sebagian kita dianggap sebagai master (guru) hedge fund, menutup posisi 4 atau 5 currency funds nya tahun kemarin. Bahkan posisi yang masih di pertahankannya, menurun nilainya sebesar 30% pada 2007 lalu.
Trader-trader hancur saat berusaha mencari "top dan bottom", banyak pula yang gagal mencoba mendefinisikan pola wave, bahkan para market timers tersandung oleh whipsaw ketika keadaan market terlihat begitu gampangnya di prediksi.
Namun, ada berita baik untuk anda. Anda tidak perlu terjebak dalam kepanikan oleh kondisi tersebut diatas. Ketika keadaan mulai "menggila", panik hanya akan melanda bagi para trader yang tidak siap. Besarnya drawdown dan kepanikan hanya melanda bagi trader yang tidak secara benar mempersiapkan diri.
Jujur, saya belum pernah melihat keadaan segila ini pada saat yang bersamaan. Prinsip yang selama ini saya pegang pun, tidak dapat mencegah saya untuk membuka posisi, tidak juga mencegah saya mengalami drawdowns yang lumayan besar. Tidak ada yang dapat menghalangi saya untuk membuka posisi, ketika waktu untuk trading datang. Namun prinsip itulah yang menyelamatkan saya, apapun kondisinya.
Prinsip tersebut menjadi misi saya nomer 1 dalam trading, yakni, Bertahan Untuk Tetap Eksis.
Pertanyaan yang sering dilontarkan, baik oleh trader amatiran maupun profesional, adalah "Berapa banyak yang mampu saya hasilkan?". . . dan bagi saya ini adalah pertanyaan yang sangat penting. Namun, bagaimanapun, bila anda tidak bertahan untuk survive dalam keadaan "gila" seperti saat ini, seberapapun banyaknya yang telah anda hasilkan, saya yakin, "the game will be over".
Memprioritaskan "survive" sebagai tujuan utama, dapat membantu anda melakukan banyak hal sekaligus. Faktor tamak (greed) adalah satu dari sekian banyak hal yang dapat di hindari dengan berpegang pada prinsip ini. Hal ini membuat anda tetap sadar bahwa 95% trader berakhir dengan kegagalan, dan mungkin anda bisa menjadi salah satu dari 95% tersebut bila anda tidak mencoba "survive" mulai DARI SEKARANG.
Fokus dan mengutamakan "survive" juga membuat anda akan bertanya, dimana pertanyaan tersebut jarang di lontarkan oleh para trader, misalnya: apa yang akan terjadi, bila sebuah sistem gagal dan anda mengalami drawdowns super besar? apakah anda akan tamat? bila anda menjawab, ya, bisa di artikan anda meresikokan terlalu banyak. Sebaiknya anda menggunakan sistem yang memiliki resiko lebih kecil, atau, anda perlu membuka posisi dengan lot yang lebih kecil.
Pengalaman dengan banyak trader yang saya alami, termasuk saya sendiri, kegagalan paling utama yang menyebabkan seorang trader tumbang, adalah OVERTRADING. Mereka meresikokan terlalu banyak ketika memulai, tidak berpikir dulu bagaimana cara untuk "survive", malahan berpikir bagaimana saya akan "menghajar" habis semua profit yang mungkin di dapat. . .serta membayangkan sebuah liburan mewah yang sangat menyenangkan dengan hasil trading yang akan diperoleh.
Jangan salah sangka, memposisikan diri untuk mendapat return yang besar sebagai tujuan utama adalah baik, sangat baik bahkan. Namun, jangan sampai mengabaikan faktor resiko yang mungkin datang, kenali dan manage resiko, itu kuncinya.
Mulai dari sekarang, tanya diri anda sendiri, "apakah saya telah dengan baik mempersiapkan diri menghadapi kondisi "gila" yang di luar prediksi, dan tetap eksis?" bila jawabannya, tidak, anda perlu untuk menuliskan dengan baik di secarik kertas tentang apa yang saat ini anda kerjakan dalam trading, dan cobalah untuk mencari resiko yang timbul dalam keadaan terburuk yang mungkin saja terjadi.
- Harga emas belum pernah setinggi ini.
- Harga tembaga belum pernah setinggi ini.
- Harga minyak mentah belum pernah setinggi ini
- Gandum, kedelai, dan beberapa komoditi lainnya belum pernah
setinggi ini
- Beberapa pair mata uang mengalami volatilitas yang belum pernah
kita lihat lagi sejak peristiwa 9/11 (7 tahun)
- S&P terlihat jatuh 22% dari titik puncaknya menuju low sejak
Oktober (4 bulan)
- Obligasi jangka panjang (30 tahun) terus mencoba menguji level
tertinggi sepanjang masa
Segalanya terlihat begitu "gila", yang berarti resiko juga meningkat tajam.
Begitu banyak sistem trading yang bertumbangan dengan cara yang belum pernah dialami , bahkan sejak pertama kali diciptakan. Saya sendiri jujur mengakui, dari 6 akun, 3 akun saya luluh lantak terkena Margin Call. Mungkin anda pernah mendengar tentang John Henry? orang yang bagi sebagian kita dianggap sebagai master (guru) hedge fund, menutup posisi 4 atau 5 currency funds nya tahun kemarin. Bahkan posisi yang masih di pertahankannya, menurun nilainya sebesar 30% pada 2007 lalu.
Trader-trader hancur saat berusaha mencari "top dan bottom", banyak pula yang gagal mencoba mendefinisikan pola wave, bahkan para market timers tersandung oleh whipsaw ketika keadaan market terlihat begitu gampangnya di prediksi.
Namun, ada berita baik untuk anda. Anda tidak perlu terjebak dalam kepanikan oleh kondisi tersebut diatas. Ketika keadaan mulai "menggila", panik hanya akan melanda bagi para trader yang tidak siap. Besarnya drawdown dan kepanikan hanya melanda bagi trader yang tidak secara benar mempersiapkan diri.
Jujur, saya belum pernah melihat keadaan segila ini pada saat yang bersamaan. Prinsip yang selama ini saya pegang pun, tidak dapat mencegah saya untuk membuka posisi, tidak juga mencegah saya mengalami drawdowns yang lumayan besar. Tidak ada yang dapat menghalangi saya untuk membuka posisi, ketika waktu untuk trading datang. Namun prinsip itulah yang menyelamatkan saya, apapun kondisinya.
Prinsip tersebut menjadi misi saya nomer 1 dalam trading, yakni, Bertahan Untuk Tetap Eksis.
Pertanyaan yang sering dilontarkan, baik oleh trader amatiran maupun profesional, adalah "Berapa banyak yang mampu saya hasilkan?". . . dan bagi saya ini adalah pertanyaan yang sangat penting. Namun, bagaimanapun, bila anda tidak bertahan untuk survive dalam keadaan "gila" seperti saat ini, seberapapun banyaknya yang telah anda hasilkan, saya yakin, "the game will be over".
Memprioritaskan "survive" sebagai tujuan utama, dapat membantu anda melakukan banyak hal sekaligus. Faktor tamak (greed) adalah satu dari sekian banyak hal yang dapat di hindari dengan berpegang pada prinsip ini. Hal ini membuat anda tetap sadar bahwa 95% trader berakhir dengan kegagalan, dan mungkin anda bisa menjadi salah satu dari 95% tersebut bila anda tidak mencoba "survive" mulai DARI SEKARANG.
Fokus dan mengutamakan "survive" juga membuat anda akan bertanya, dimana pertanyaan tersebut jarang di lontarkan oleh para trader, misalnya: apa yang akan terjadi, bila sebuah sistem gagal dan anda mengalami drawdowns super besar? apakah anda akan tamat? bila anda menjawab, ya, bisa di artikan anda meresikokan terlalu banyak. Sebaiknya anda menggunakan sistem yang memiliki resiko lebih kecil, atau, anda perlu membuka posisi dengan lot yang lebih kecil.
Pengalaman dengan banyak trader yang saya alami, termasuk saya sendiri, kegagalan paling utama yang menyebabkan seorang trader tumbang, adalah OVERTRADING. Mereka meresikokan terlalu banyak ketika memulai, tidak berpikir dulu bagaimana cara untuk "survive", malahan berpikir bagaimana saya akan "menghajar" habis semua profit yang mungkin di dapat. . .serta membayangkan sebuah liburan mewah yang sangat menyenangkan dengan hasil trading yang akan diperoleh.
Jangan salah sangka, memposisikan diri untuk mendapat return yang besar sebagai tujuan utama adalah baik, sangat baik bahkan. Namun, jangan sampai mengabaikan faktor resiko yang mungkin datang, kenali dan manage resiko, itu kuncinya.
Mulai dari sekarang, tanya diri anda sendiri, "apakah saya telah dengan baik mempersiapkan diri menghadapi kondisi "gila" yang di luar prediksi, dan tetap eksis?" bila jawabannya, tidak, anda perlu untuk menuliskan dengan baik di secarik kertas tentang apa yang saat ini anda kerjakan dalam trading, dan cobalah untuk mencari resiko yang timbul dalam keadaan terburuk yang mungkin saja terjadi.
============
Happy Trading!
============
Monday, 18 February 2008
The US sub-prime mortgage crisis
Krisis sub-prime mortgage di Amerika telah membawa kehancuran harga property, menciptakan perlambatan ekonomi di Amerika, bahkan dunia, dan kerugian yang sangat besar pada industry perbankan.
Semua krisis itu berawal dari perubahan fundamental pada sistem pemberian kredit. Kredit subprimer atau dalam istilah asing disebut subprime lending, ataupun sering juga disebut B-Paper (surat utang peringkat "B") , adalah suatu istilah yang digunakan pada praktek pemberian kredit kepada peminjam yang tidak memenuhi persyaratan kredit untuk diberikan pinjaman berdasarkan suku bunga pasar, karena debitur tersebut memiliki "catatan kredit" yang kurang baik. Kredit subprimer ini sangat beresiko baik bagi pemberi pinjaman (kreditur) maupun bagi peminjam (debitur) oleh karena kombinasi antara tingginya suku bunga yang dikenakan, catatan kredit yang buruk, dan kerap kali dalam permohonan kredit ditemui pula situasi keuangan debitur yang kurang baik.
Sedangkan Subprime mortgages atau Kredit pemilikan rumah (KPR) subprimer, adalah kredit subprimer dengan jaminan berupa hak tanggungan . Sebagaimana pada umumnya kredit subprimer, maka kredit subprimer jenis ini adalah ditentukan berdasarkan jenis nasabah. Menurut John Lonski, kepala ekonomi pada Moody's Investors Service, walaupun tidak semua KPR masuk dalam kategori ini, sekitar 21% dari seluruh kredit pada rentang tahun 2004 dan 2006 adalah merupakan pinjaman KPR subprimer naik 9% dibandingkan periode 1996 hingga 2004. Keseluruhan KPR subprimer bernilai 600 Milyar USD pada tahun 2006, atau senilai 1/5 dari pasar KPR Amerika.
Diawali pada akhir tahun 2006, industri KPR subprimer di Amerika memasuki suatu masa yang disebut "masa kehancuran KPR subprimer". Tingginya angka penyitaan jaminan KPR subprimer ini telah menyebabkan lebih dari 24 perusahaan pemberi pinjaman KPR subprimer mengalami pailit, salah satunya adalah perusahaan terkemuka yaitu New Century Financial Corporation, yang merupakan perusahaan KPR subprimer terbesar kedua di Amerika. Kehancuran dari perusahaan-perusahaan KPR subprimer ini telah mengakibatkan harga pasar saham berbasis Real estate investmen trus senilai 6.5 triliun USD jatuh dan membawa pengaruh meluas terhadap bursa saham Amerika serta ekonomi secara keseluruhan. Kris ini masih berlanjut terus dan telah mendapatkan perhatian serius dari media massa di Amerika serta pembuat undang-undang pada awal tahun 2007.
Hancurnya sektor property Amerika, kini mempengaruhi perekonomian secara luas, karena selama ini industry perumahan menyokong kurang lebih 15% dari keseluruhan ekonomi Amerika. Para pakar ekonomi memperkirakan, efek dari krisis KPR suprimer ini akan memperlambat pertumbuhan ekonomi Amerika sebesar 1 hingga 1.5% , dibandingkan pertumbuhan saat tahun sebelumnya yang mencapai 3.9%.
source : http://newsvote.bbc.co.uk/ & Wikipedia
==============
Happy Trading
==============